Perkawinan Adat Banjar
Adat adalah kebiasaan yang normatif dan Menilik sedikit adat istiadat masyarakat Banjarmasin sebelum melalukan prosesi Pernikahan,
- Basusuluh (mencari informasi secara diam-diam mengenai riwayat keluarga calon mempelai. Mencari informasi ini bisa melalui berbagai macam cara dan dilakukan secara cerdik)
- Batatakun (mencari informasi definitif, pencarian ini lebih terbuka melalui kedua pihak keluarga)
- Badatang (meminang)
- Maatar Patalian ( memberikan barang-barang antaran kepada pihak mempelai wanita, berupa barang kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan kamar tidur)
- Batamat Qur’an (membaca Qur’an sampai khatam/tamat)
- Nikah (ikatan resmi menurut agama)
- Batatai (proses akhir dari perkawinan Banjar, upacara bersanding/pesta perkawinan)
Proses-proses yang dilakukan sebelum batatai pengantin, yaitu
- Manurunakan Pangantin Laki-Laki , Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai berangkat dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Memang terlihat mudah tapi sesi ini yang paling penting, karena sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sampai mengakibatkan batalnya suatu pernikahan karena ada yang ‘mengganggu” secara gaib. Makanya ketika pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi yellow rice (baras kuning)
- Maarak Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuda Gipang, bahkan ada musik Bamban (sejenis Tanjidor Betawi). Mempelai laki-laki yang melewati barisan Sinoman Hadrah akan dilindungi oleh Payung Ubur-Ubur, payung ini akan terus berputar-putar melindungi pengantin sambil rombongan bergerak menuju rumah mempelai wanita.
- Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir
Tulisan ini terinspirasi oleh nona yang satu ini.
Prosesi diatas memang sangat jarang ditemui sekarang ini, kebebasan berekspresi (tidak mau repot) salah satu alasan lunturnya budaya Banjar, tapi ada juga yang masih memegang teguh dengan prosesi diatas.
yang terbesit diotak saya kenapa Pemerintah Kota Banjarmasin belum mengekplor budaya itu, padahal itu bisa dijadikan objek wisata dan budaya untuk visit Kalimantan Selatan 2010, Kenapa tidak sekali-sekali dengan sponsor dana pemerintan sendiri untuk masyarakat Banjarmasin yang kurang beruntung melalukan prosesi pernikahan.mulai dari badatang sampai proses terakhir batatai, yang digelar di Gedung Mahligai Pancasila, dan dapat menarik wisatawan asing, sekaligus memperkenalkan sesungguhnya budaya banjar. bukan cuma ada pernikahan massal…!!!
(jangan mimpi teman…., jalan saja masih banyak yang rusak)
Satu lagi, tentang jujuran.
Apakah mahar bisa disebut jujuran?
Mahar itu adalah sebagai bukti bahwa kita menikahi seseorang, ketika selesai mengucapkan Ijab Kabul mahar itulah sebagai bukti bahwa pernah berucap menikahi seseorang. Yang dalam agama semakin sedikit mahar makin bagus. Dan kalau terjadi sesuatu, mahar itu yang dikembalikan orang tua perempuannya.
Bagaimana tentang jujuran? Saya tidak tau teman, dari tahun ketahun semakin tinggi nilai rupiahnya, tidak tau dimasa yang akan datang, bisa jadi jujurannya pakai dollar atau Euro, karena masyarakat banjar masih terbelenggu dengan yang namanya gengsi, ya… orang tua mereka sangat bangga kalau nilai jujuran anaknya tinggi.



