Mahasiswa Abadi nan Sentosa
Setahun yang lalu ketika saya masih bertitle Mahasiswa, saya paling tidak suka yang namanya Demonstrasi atau aksi damai atau apalah… dan sampai sekarangpun masih tidak suka, dan ironinya saya terjebak untuk ikut dalam aksi demontrasi setahun yang lalu ketika kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, yang menurut saya demo itu tidak ada nilai faedah sama sekali. Saya adalah mahasiswa satu-satunya yang menentang aksi ini, dan bagaimana mungkin saya menang melawan argumentasi teman-teman kampus saat itu, dan blass… saya kalah.
Saya bisa saja tidak ikut dalam aksi itu, tapi tidak ada salahnya juga mengikuti jalur pikiran mereka, sebelum saya nanti yang akan bersuara. Dan tujuan saya yang lain, dana untuk UKM badminton masih belum cair, lumayan 1.250.000, kebetulan saya menjabat sebagai ketum UKM badminton. Memang saya tidak mengeluh karena dana yang dipending langsung cair.
Saya bertanya kenapa kita demo? Mereka hanya menjawab kita ini ujung tombak masyarakat, masyarakat berharap kita ini menyampaikan aspirasi mereka melalui kita,dan demo ini cara yang efektif!! ah…, saya pikir masyarakat tidak pernah menyuruh mahasiswa untuk demo, masyarakat Indonesia khususnya Banjarmasin sudah sangat pintar membijaki kebijakan pemerintah tidak jelas.
Memang benar adanya peran mahasiswa sangat besar mengingat rezim Soeharto pun takluk dihadapan mahasiswa. Tapi sekarang Indonesia sudah canggih, (cangkal behutang ngalih ditagih), liat kasus ibu prita, yang membuka pikiran saya, hanya dengan “tulisan” (tidak perlu turun kejalan) yang bisa membuat banyak orang kerepotan.




